oleh

Dari Asin Laut ke Wangi Harapan: Jejak Energi Hijau Pertamina RU Dumai yang Mengubah Hidup Nelayan dan Ibu Pesisir

Teluk Dumai — Pagi itu, ketika matahari belum sepenuhnya menghangatkan garis pantai, perahu-perahu kecil nelayan sudah berderet rapi di muara. Di balik aktivitas tangkap-menarik yang tak pernah henti, ada sebuah cerita lain yang mulai mengubah wajah komunitas pesisir: sabun beraroma yang dikemas rapi, mesin cuci tenaga surya yang berdengung lembut, dan program pemberdayaan yang menautkan kilang minyak besar dengan usaha rumah tangga sederhana. Di Dumai, energi tak lagi hanya menggerakkan mesin kilang  energi juga menggerakkan harapan.

Pertamina Refinery Unit II (RU II) Dumai, salah satu kilang terbesar di Indonesia, selama beberapa tahun terakhir menempatkan diri bukan semata-mata sebagai produsen bahan bakar, melainkan juga sebagai agen transformasi sosial-ekonomi dan lingkungan. Dengan kapasitas pengolahan yang besar dan rangkaian produk yang panjang, kilang ini menjadi pusat gravitasi ekonomi dan program corporate social responsibility (CSR) yang menyentuh langsung kelompok nelayan dan ibu rumah tangga pesisir. Fakta teknis dan program yang dijalankan RU II menegaskan pergeseran itu dari fokus produksi murni ke integrasi inovasi energi hijau dan ekonomi sirkular.

Selama dekade terakhir, tekanan global dan nasional untuk menurunkan intensitas karbon dan mengembangkan energi berkelanjutan mendorong industri kilang melakukan transformasi. Pertamina sendiri memetakan arah itu melalui program green refinery dan adopsi praktik yang lebih ramah lingkungan di beberapa unit kilangnya, termasuk upaya pengembangan produk ramah lingkungan seperti bahan bakar yang memenuhi regulasi emisi internasional. Di level lokal, inisiatif-inisiatif ini membuka ruang kolaborasi antara kilang dan komunitas. Upaya replikasi green energy di beberapa kilang, termasuk rencana memperluas inisiatif ke Dumai, menunjukkan komitmen korporasi menuju jejak operasi yang lebih hijau.

Foto: Para pekerja Betuah laundry tengah merapikan pakaian. Dok. Pertamina

Bagi warga pesisir Dumai, istilah “green refinery” tak sekadar jargon teknis. Bagi mereka, itu berarti peluang diversifikasi ekonomi, pengelolaan limbah yang lebih baik, dan akses teknologi sederhana yang menurunkan biaya produksi rumah tangga  contohnya listrik tenaga surya untuk usaha kecil. Salah satu inisiatif paling nyata yang menyatu dengan narasi green refinery adalah program Green Laundry (Betuah Laundry/Binaan), sebuah usaha binatu berbasis teknologi ramah lingkungan yang memadukan pemanfaatan energi surya, pengelolaan air limbah, serta pelatihan kewirausahaan bagi ibu rumah tangga. Program ini juga menjadi contoh konkret bagaimana sisa-sisa perhatian pada kelestarian lingkungan bisa bersinergi dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Di sebuah rumah panggung dekat pesisir Mundam, Siti (36) seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi koordinator kelompok Betuah Laundry  membuka rak kecil yang berisi sabun-sabun kemasan buatan kelompoknya. “Dulu penghasilan suami hanya dari tangkapan. Kalau musim sepi, kami harus menahan lapar. Sekarang, sabun ini membantu menutup hari-hari sulit itu,” ujarnya sambil menunjuk timbunan sabun dan deterjen ramah lingkungan hasil produksi kelompok. Siti bukan sekadar cerita individual; dia bagian dari gelombang warga pesisir yang kini punya alternatif penghasilan selain menangkap ikan.

Nelayan lokal juga merasakan dampak program komprehensif yang diinisiasi atau difasilitasi RU II. Selain pelatihan mekanik kapal dan pemasangan alat pemecah ombak sederhana untuk mengurangi abrasi di beberapa titik pesisir, kelompok nelayan mendapat akses untuk ikut program minapolitan pengembangan tata guna perikanan yang terintegrasi dengan program pemberdayaan CSR. Menurut studi dan laporan lapangan, program semacam ini menaikkan kapasitas teknis nelayan, memperkecil biaya operasional, dan dalam beberapa kasus meningkatkan volume dan nilai hasil tangkapan karena kualitas pasca-tangkap yang lebih baik.

Green Laundry: Dari Ide ke Mesin dan Papan Harga

Green Laundry bukan sekadar nama. Di baliknya terdapat pendekatan ekonomi sirkular: penggunaan energi terbarukan (panel surya), teknologi pengolahan air limbah sederhana yang mengurangi beban pencemaran, serta pengolahan limbah padat menjadi produk bernilai (misalnya kemasan sabun ramah lingkungan). Salah satu outlet Betuah Laundry yang menjadi pilot project mampu menghasilkan listrik photovoltaic yang cukup untuk mengoperasikan mesin cuci, pengering, dan peralatan produksi kecil lain dengan kapasitas total energi terukur  program ini tercatat menghasilkan hingga 6.600 kWh dari instalasi tenaga surya di lokasi tertentu, angka yang signifikan untuk skala usaha mikro-kecil. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada listrik PLN dan biaya operasional, sehingga margin usaha lebih sehat.

Lebih penting lagi, Green Laundry dirancang agar bersinergi dengan aspek sosial: pelatihan manajemen usaha, pembukuan sederhana, pemasaran digital lokal—hingga pengemasan produk yang layak jual ke toko-toko sekitar kota Dumai. Inilah yang mengangkat posisi ibu rumah tangga dari sekadar pekerja tambahan menjadi pelaku ekonomi mandiri yang mampu bernegosiasi di pasar lokal.

Kami berkomitmen menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari operasi kilang. Program yang kami jalankan bertujuan memberi manfaat nyata bagi komunitas pesisir melalui peningkatan kapasitas ekonomi sekaligus menjaga ekosistem,” kata Agus, Manajer Hubungan Masyarakat (Community Relations/ComRel) RU II Dumai, ketika menjelaskan filosofi program-program CSR kilang. Agus menekankan bahwa inisiatif seperti Green Laundry dan program minapolitan bukan sekadar proyek jangka pendek melainkan bagian dari peta jalan sinergi antara kilang, pemerintah daerah, dan komunitas.

Dari sisi teknis, insinyur kilang dan tim sustainability bekerja sama merancang modifikasi sederhana yang memungkinkan transfer teknologi ke masyarakat. Contoh konkret adalah modul-panel surya skala kecil yang disinkronkan untuk kebutuhan usaha rumahan; dan sistem pengolahan air limbah yang menggunakan prinsip biofilter dan sedimentasi  teknologi yang mudah dipelajari dan terjangkau untuk perbaikan kualitas air buangan. Kunci keberhasilan adalah desain solusi yang low-tech namun efektif, sehingga penerimaan masyarakat menjadi cepat dan biaya perawatan rendah.

Pemberdayaan ekonomi tidak terlepas dari upaya perlindungan lingkungan. Beberapa program CSR RU II Dumai fokus pada rehabilitasi mangrove, penguatan garis pantai, dan pengelolaan sampah. Laporan lapangan menunjukkan pengurangan titik abrasi setelah pemasangan solusi alam-manusia (mis. nursery mangrove, instalasi pelindung pantai berbasis limbah ban bekas), serta peningkatan kesadaran masyarakat soal pengelolaan sampah rumah tangga. Inisiatif tersebut memiliki efek rangkap: mangrove menahan abrasi, menyediakan habitat biota laut, dan mendukung produktivitas perikanan lokal dengan begitu, keuntungan ekonomi jangka panjang juga dirasakan oleh nelayan.

Program nursery mangrove di beberapa lokasi pesisir menghasilkan ribuan bibit yang ditanam bertahap. Selain meningkatkan ketahanan ekologis pesisir, kegiatan ini melibatkan warga lokal membuka kesempatan pekerjaan baru, terutama bagi pemuda dan ibu-ibu yang ikut dalam kegiatan penanaman dan perawatan bibit.

Data dan Fakta: Mengukur Keberhasilan

Mengukur keberhasilan program sosial-ekonomi dan lingkungan bukan hal mudah. Namun data awal dari evaluasi komunitas dan laporan internal menunjukkan beberapa indikator positif:

  • Peningkatan pendapatan tambahan rumah tangga yang mengikuti program Green Laundry (persentase dan nilai bervariasi antar kelompok, tergantung skala usaha).
  • Penurunan biaya energi operasional usaha laundry karena penggunaan panel surya (contoh: produksi listrik lokal hingga ribuan kWh per tahun untuk satu outlet pilot).
  • Peningkatan kapasitas teknis nelayan setelah pelatihan mekanik dan penanganan pasca-tangkap (indikator: pengurangan biaya perbaikan kapal pihak ketiga, peningkatan kualitas ikan yang mencapai pasar).
  • Luasan pantai yang terlindungi dari abrasi setelah intervensi CSR tertentu (dilaporkan puluhan hingga ratusan meter di lokasi tertentu).

Sementara itu, catatan resmi dari manajemen kilang menegaskan bahwa RU II Dumai merupakan salah satu unit pengolahan penting dalam jaringan Kilang Pertamina Internasional (KPI), dengan produk yang mencakup Pertalite, Pertamax, Solar, Avtur, dan produk lain yang memenuhi permintaan domestik. Posisi strategis ini membuat dampak korporasi pada masyarakat lokal sangat nyata  baik dalam sisi ekonomi langsung maupun program tanggung jawab sosial.

Setiap program memiliki wajah manusia. Di salah satu rumah produksi sabun ramah lingkungan, Aisyah (42) mengajarkan anak-anak tetangga bagaimana mencetak sabun, memberi label, hingga tips pemasaran lewat WhatsApp. “Kami belajar menghitung modal, menentukan harga, dan menjaga kualitas. Yang penting, anak-anak melihat bahwa ibu juga bisa berkontribusi,” kata Aisyah.

Di sisi lain, Nasir (54), seorang nelayan dari Desa Mundam, bercerita bagaimana pelatihan mekanik kapal membuatnya bisa memperbaiki mesin sendiri saat motor tempel rusak di tengah laut. “Biaya tadi bisa untuk membeli bahan bakar tambahan atau untuk sekolah anak,” ujarnya. Narasi-narasi ini menguatkan argumen bahwa program bukan sekadar proyek mereka membentuk modal sosial dan ekonomi yang dapat diwariskan.

Tantangan: Tidak Semua Mudah dan Langsung

Meski banyak keberhasilan, perjalanan transformasi ini tidak bebas hambatan. Tantangan teknis, seperti pemeliharaan panel surya oleh pengguna yang belum familiar, keterbatasan modal awal untuk replikasi skala lebih luas, serta resistensi sosial pada perubahan cara produksi menjadi penghalang yang harus diatasi. Selain itu, kejadian-kejadian operasional kilang (kebakaran/insiden) yang sesekali muncul menguji kepercayaan publik; komunikasi transparan dan respons cepat manajemen menjadi kunci menjaga stabilitas hubungan dengan komunitas. Laporan media pernah mencatat insiden kebakaran di fasilitas kilang yang berimbas pada keprihatinan publik; penanganan yang cepat dan keterbukaan informasi menjadi penting untuk memulihkan kepercayaan.

Masalah lain adalah skala: pilot program yang berhasil di satu atau beberapa lokasi belum tentu mudah direplikasi ke seluruh pesisir Dumai karena heterogenitas kondisi ekonomi, geografis, dan sosial-kultural. Oleh sebab itu, pendekatan yang sensitif terhadap konteks lokal dan partisipatif menjadi prasyarat.

Salah satu rahasia keberlanjutan program adalah pola kemitraan. RU II Dumai tak beroperasi sendiri; mereka berkolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga riset, LSM lingkungan, dan pelaku pasar. Kolaborasi ini mengambil banyak bentuk: dukungan teknis, co-funding untuk instalasi energi terbarukan, hingga kanal pemasaran produk lokal di jaringan distribusi kota Dumai. Model sinergi semacam ini mengurangi risiko kegagalan dan membuka jalan untuk scale-up yang lebih sistematis.

Sebuah studi evaluatif terhadap program CSR RU II menekankan pentingnya komunikasi dua arah bukan hanya penyaluran bantuan, tetapi konsultasi dan partisipasi aktif warga dalam desain proyek agar hasil bisa relevan dan dimiliki komunitas. Hal ini terlihat pada proses desain Green Laundry yang melibatkan ibu-ibu sejak tahap konsepsi hingga uji coba operasional.

Ekonomi Sirkular: Limbah jadi Aset

Pendekatan ekonomi sirkular menjadi salah satu pilar. Limbah organik dan padat yang dihasilkan rumah tangga dan usaha kecil diolah menjadi produk nilai tambah. Contohnya: limbah minyak goreng bekas dari warung setempat yang dikumpulkan untuk diolah menjadi bahan dasar pembuatan sabun; atau ban bekas yang di-repurpose sebagai pelindung garis pantai. Dengan mekanisme pengumpulan lokal dan proses produksi skala kecil, siklus nilai ini mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan mata pencaharian baru.

Kunci implementasi ekonomi sirkular adalah desain rantai pasok lokal yang efisien: pembelian sampah oleh kelompok produksi, skema pembagian keuntungan, dan pasar lokal yang menjamin penyerapan produk. Ketika rantai ini bekerja, dampak lingkungan dan ekonomi bergerak seiring.

Pelajaran bagi Program Serupa di Tempat Lain

Pengalaman Dumai menyajikan beberapa pelajaran praktis bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan yang hendak mengintegrasikan operasi industri dengan pembangunan komunitas:

  1. Desain teknologi sederhana dan terjangkau: Panel surya skala mikro dan sistem biofilter yang mudah dipelajari membantu adopsi cepat.
  2. Partisipasi komunitas sejak awal: Keterlibatan warga dalam desain dan pengelolaan memastikan program “milik” mereka.
  3. Keterkaitan pasar: Pelatihan pemasaran dan akses ke jaringan distribusi lokal memperbesar peluang kelangsungan usaha kecil.
  4. Pengukuran dampak: Monitoring indikator ekonomi dan lingkungan harus dilakukan rutin agar program bisa disesuaikan.
  5. Kolaborasi multi-pihak: Perpaduan peran kilang, pemerintah, LSM, dan pelaku pasar adalah resep penting untuk skalabilitas.

Kisah Penutup: Wangi yang Menyebar ke Kota

Sore menjelang malam di pesisir Dumai. Dari jarak beberapa ratus meter, tercium samar aroma sabun rumah tangga yang baru diproduksi wangi harapan yang literal dan simbolis. Di warung kecil dekat dermaga, pembeli melirik kemasan Betuah Laundry dan berbicara singkat dengan penjual: “Ini bagus, ramah lingkungan, buatan warga sini.” Komentar singkat itu adalah upaya kolektif warga Dumai, kilang, dan mitra untuk menulis ulang narasi kawasan pesisir: bukan lagi hanya sebagai ruang yang menampung industri besar, tetapi ruang yang juga menerima manfaat, berdaya, dan berkelanjutan.

RU II Dumai masih beroperasi sebagai kilang besar; ia tetap menjadi tulang punggung energi. Namun, lewat program-program yang menyentuh akar ekonomi rumah tangga dan pemulihan ekosistem pesisir, kilang ini memberi bukti bahwa energi dapat diarahkan tidak hanya untuk mesin, tetapi untuk manusia mengubah asin laut menjadi wangi harapan bagi banyak keluarga.

Penulis : Eko Saputra

Editor : Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *