DUMAI (DNN) – Sore itu angin berembus lembut dari arah Selat Rupat. Di ujung dermaga kecil Kelurahan Purnama, Dumai Barat, suara dayung kayu membelah air yang mulai surut terdengar berpadu dengan gemerisik daun mangrove yang tumbuh rapat di tepi pantai. Di antara pepohonan muda setinggi dada orang dewasa, terlihat seorang lelaki berkaus lusuh tengah menurunkan jaring dari perahunya. Namanya Ahmad (48), nelayan yang kini lebih sering tersenyum setiap kali kembali dari laut.
“Tiga tahun lalu, di sini tidak serimbun ini. Dulu, setiap kali pasang besar datang, air bisa masuk ke dapur rumah. Sekarang, akar mangrove ini seperti pagar alam yang melindungi kami,” ujarnya sambil menunjuk deretan pohon mangrove yang ditanam warga bersama Pertamina RU II Dumai lewat program CSR “Energi Hijau Pesisir”.
Awal dari Krisis yang Menggerakkan
Dumai, kota industri di pesisir Riau, sejak lama menjadi nadi energi nasional. Kilang minyak Pertamina berdiri megah di kawasan Bukit Datuk, menandai peran strategis daerah ini sebagai salah satu pusat pengolahan minyak bumi Indonesia. Namun di balik geliat industri itu, nelayan kecil seperti Ahmad sempat menghadapi masa sulit.
“Sekitar 2015 sampai 2019, hasil tangkapan menurun drastis. Air payau berubah warna, banyak tambak mati, ikan menjauh. Kami sempat berpikir, ini akhir hidup kami di laut,” kenang Ahmad.
Data Dinas Perikanan Kota Dumai mencatat, degradasi hutan mangrove mencapai lebih dari 60% dalam dua dekade terakhir. Alih fungsi lahan, abrasi, dan penurunan kualitas air menjadi penyebab utama. Akibatnya, daya dukung ekosistem pesisir menurun, memukul mata pencaharian ribuan nelayan.

Situasi itu menjadi perhatian serius Pertamina RU II Dumai, yang wilayah operasinya bersinggungan langsung dengan zona pesisir. Melalui program CSR bertema “Energizing Nature, Energizing People”, perusahaan berupaya memulihkan ekosistem sekaligus menghidupkan kembali ekonomi masyarakat pesisir.
Menanam Harapan di Tanah Berlumpur

Program konservasi mangrove dimulai sekitar tahun 2020 dengan melibatkan kelompok masyarakat nelayan di Kelurahan Purnama dan Teluk Makmur. Ahmad menjadi salah satu peserta awal. Bersama sepuluh warga lain, ia mengikuti pelatihan tentang pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan mangrove yang difasilitasi oleh Pertamina bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Dumai dan Universitas Riau.
“Awalnya kami pikir hanya disuruh tanam saja. Tapi ternyata, kami diberi pelatihan lengkap: mulai dari ekologi mangrove, pemetaan kawasan, sampai cara membuat pupuk organik dari limbah rumah tangga,” jelas Ahmad.
Pertamina menyediakan dukungan berupa alat, bibit mangrove, serta pendampingan teknis. Dalam dua tahun pertama, lebih dari 150 ribu bibit mangrove ditanam di lahan seluas 50 hektare. Tak hanya itu, warga juga diajak mengembangkan eco-education tour dan produk turunan seperti sirup mangrove serta batik pewarna alami dari buah pidada.
Di sisi lain, bagi ibu-ibu pesisir seperti Siti Nuraini (39), program ini membuka jalan baru. “Suami saya nelayan. Dulu kalau musim angin utara, kami nyaris tak punya penghasilan. Sekarang saya bisa bantu keluarga dari hasil olahan mangrove,” katanya sambil memperlihatkan botol kecil berisi sirup merah kecokelatan berlabel ‘Mangrove Sejahtera Dumai’.
Siti tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Sejahtera, binaan CSR Pertamina RU II. Selain mendapat pelatihan kewirausahaan, mereka juga dibantu untuk membangun rumah produksi sederhana. Kini produk mereka telah masuk ke beberapa toko oleh-oleh lokal dan dipromosikan dalam ajang pameran CSR nasional.
Energi Sosial yang Menyala
Lebih dari sekadar menanam pohon, proyek konservasi ini menciptakan energi sosial baru. Hubungan antarwarga yang dulu renggang kini terjalin lewat gotong royong menanam dan merawat bibit. Anak-anak sekolah ikut belajar menanam saat kegiatan Mangrove Day, sementara para pemuda mengelola media sosial komunitas untuk promosi wisata edukasi.
Menurut Manager Communication, Relations & CSR Pertamina RU II Dumai, program ini dirancang tidak hanya untuk pemulihan lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat berkelanjutan. “Kami ingin masyarakat merasakan langsung bahwa energi bukan hanya soal bahan bakar, tapi juga energi kehidupan — energi sosial dan ekonomi yang tumbuh dari kesadaran menjaga alam,” ujarnya dalam wawancara.
Seiring waktu, dampak lingkungan mulai terasa nyata. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup pada 2023 menunjukkan tingkat abrasi di kawasan pesisir Teluk Makmur menurun sekitar 35%. Populasi kepiting bakau dan ikan kecil meningkat, menandakan ekosistem mulai pulih.
“Sekarang kalau pasang besar datang, air tidak lagi naik ke rumah. Udang dan ikan yang dulu susah dicari, kini mulai kembali,” ujar Ahmad sambil tersenyum. “Mangrove ini seperti tembok hidup yang menjaga kami.”
Jejak Ekonomi Hijau di Pesisir Energi
Kisah Siti dan Ahmad hanyalah dua dari lebih seratus warga yang kini menjadi bagian dari rantai ekonomi hijau pesisir Dumai. Pertamina membantu membangun ekosistem bisnis kecil yang berbasis lingkungan. Produk-produk olahan mangrove mereka tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga simbol transformasi sosial-ekonomi masyarakat pesisir.
Program tersebut juga bersinergi dengan kebijakan nasional melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.89/MenLHK/2016 tentang rehabilitasi hutan dan lahan mangrove serta target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dalam pengurangan emisi karbon.
Pertamina sendiri telah menetapkan target net zero emission 2060, dan program seperti konservasi mangrove di Dumai menjadi bagian dari kontribusi sektor energi dalam menjaga keseimbangan ekologi. Menurut laporan keberlanjutan (Sustainability Report) Pertamina 2024, konservasi mangrove nasional perusahaan telah mencapai lebih dari 2,2 juta pohon yang tersebar di 16 lokasi operasi, termasuk Dumai.
Bagi masyarakat, angka-angka itu berarti lebih dari sekadar statistik. “Dulu kami hanya tahu energi itu minyak dan bensin. Sekarang kami tahu, energi juga bisa tumbuh dari tanah, dari akar, dari kebersamaan,” ujar Siti sambil menatap hamparan hijau mangrove di belakang rumahnya.
Dari Lumpur ke Cahaya: Pendidikan dan Generasi Baru
Dampak sosial yang paling menyentuh justru terlihat pada anak-anak pesisir. Sekolah dasar di Kelurahan Purnama kini sering mengadakan kelas alam mangrove yang difasilitasi oleh relawan Pertamina. Anak-anak belajar tentang pentingnya ekosistem, menanam bibit kecil di polybag, lalu menamainya dengan nama mereka sendiri.
“Saya ingin mangrove saya tumbuh besar seperti saya nanti,” ujar Naufal, murid kelas empat, sambil tersenyum bangga.
Program edukasi lingkungan ini diintegrasikan dengan kurikulum lokal, menjadikan pesisir Dumai bukan hanya laboratorium alam, tetapi juga ruang tumbuh kesadaran ekologis generasi muda. Bagi banyak keluarga, hal itu menjadi kebanggaan baru — bahwa kampung mereka kini dikenal bukan karena abrasi, tapi karena restorasi.
Sinergi Pemerintah dan Korporasi
Kehadiran Pertamina dalam pemberdayaan pesisir Dumai mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dumai, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha adalah kunci keberhasilan. “Program CSR Pertamina ini menjadi model praktik baik. Ini bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan, tapi investasi sosial untuk masa depan lingkungan,” ujarnya.
Pertamina RU II juga menggandeng berbagai pihak, termasuk Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indragiri Rokan (BPDAS) dan Universitas Riau, untuk memastikan pendekatan berbasis ilmiah dalam pemulihan mangrove. Dengan begitu, setiap bibit yang ditanam tak hanya menjadi simbol, tetapi bagian dari sistem pemulihan ekologis yang terukur.
Menyulam Harapan dari Akar
Kini, kawasan mangrove Dumai menjadi destinasi wisata edukatif. Tiang-tiang bambu dengan papan nama bertuliskan “Mangrove Pertamina RU II” berdiri di sepanjang jalan setapak kayu. Wisatawan lokal datang menikmati udara segar, sementara warga menjual produk olahan hasil kreativitas mereka.
Pendapatan rata-rata anggota kelompok KTH Mangrove Sejahtera meningkat dari Rp800 ribu menjadi Rp2,5 juta per bulan, menurut catatan internal CSR Pertamina tahun 2024. Sebagian kelompok juga mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat yang diharapkan dapat menopang ekonomi jangka panjang.
Ahmad sendiri kini menjadi pemandu wisata dadakan bagi tamu yang datang. “Kalau dulu saya hanya tahu laut, sekarang saya juga tahu hutan. Mangrove ini sudah jadi bagian hidup kami. Kalau dijaga, dia juga menjaga kami,” katanya dengan nada penuh kebanggaan.
Energi untuk Kehidupan
Cerita dari Dumai ini menunjukkan bagaimana energi — dalam makna luas — bisa menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar konsumsi. Pertamina melalui program CSR-nya berhasil memadukan tanggung jawab ekologis dengan pemberdayaan manusia. Di pesisir yang dulu tergerus abrasi, kini tumbuh ekosistem sosial-ekonomi baru yang berakar kuat.
Bagi Ahmad dan Siti, energi bukan lagi hanya bahan bakar yang menggerakkan kapal nelayan atau mesin industri, tetapi juga kekuatan yang menghidupkan kembali harapan. Energi yang mengalir dari akar mangrove, dari tangan-tangan yang menanam, dari kebersamaan masyarakat dan perusahaan dalam menjaga bumi.
“Kalau dulu laut memberi kami makan, sekarang hutan mangrove memberi kami kehidupan,” ujar Siti menutup percakapan, menatap senja yang perlahan tenggelam di balik hijau dedaunan.
Program konservasi mangrove Pertamina RU II Dumai kini menjadi bagian dari agenda nasional CSR for Sustainable Energy and Environment. Dengan integrasi kebijakan, data ilmiah, dan partisipasi warga, proyek ini menjadi contoh nyata bahwa energi sejati bukan hanya yang diambil dari bumi, melainkan juga yang tumbuh untuk bumi.
Di antara akar-akar mangrove yang mencengkeram tanah berlumpur Dumai, tersimpan kisah manusia yang menemukan kembali arti keseimbangan — antara industri dan ekologi, antara energi dan kehidupan.
Penulis : Eko Saputra
Editor : Redaksi








Komentar