DUMAI (DNN) – Pemerintah Kota Dumai kembali melakukan perombakan jabatan struktural dan fungsional pada Senin ini (13/10). namun langkah tersebut langsung menuai reaksi keras dari publik.
Warga menilai rotasi jabatan yang dilakukan jangan hanya sekadar bagi-bagi kursi dan balas budi politik, tetapi harus diiringi dengan pembuktian kinerja nyata terhadap janji-janji politik Wali Kota dan jajarannya.
Disamping itu banjir yang menjadi polemik dan yang diresahkan warga belum juga hingga saat ini teratasi dari tahun ketahun.
“Setiap hujan, rumah kami terendam. Air pasang laut makin tinggi, tapi solusi tak kunjung datang. Kalau wali kota dan bawahannya tidak becus menepati janji kampanye, lebih baik mundur saja, daripada terus memberi harapan palsu ke masyarakat,” tegas seorang aktivis sosial lokal Dumai Fattahudin,S.H
Warga menilai, janji penanganan banjir dan rob yang dulu menjadi komitmen utama saat kampanyekini hanya tinggal slogan. Hingga kini, tidak ada langkah konkret atau kebijakan yang benar-benar menuntaskan masalah klasik itu., tuturnya kepada awak media, Minggu (12/10).
“Jangan lagi menempatkan orang karena balas jasa atau loyalitas politik. Kota ini butuh orang yang berpikir dan bekerja, bukan yang sekadar duduk di kursi empuk tanpa hasil,” ujar aktivis sosial lokal menambahkan.
Kegelisahan masyarakat Dumai semakin memuncak setiap kali hujan deras mengguyur, diiringi genangan yang meluas dan merendam permukiman. Di tengah kondisi tersebut, publik menuntut kepemimpinan yang bertanggung jawab, bukan pencitraan semata.
“Kalau tidak mampu mengelola kota ini dengan baik, maka sudah saatnya berani mundur. Jangan menunggu masyarakat kehilangan kesabaran,” tutup warga dengan nada kecewa.
Dan diketahui pula persoalan ini menjadi deretan panjang janji-janji walikota yang belum tertunaikan yang sudah masuk dua periode ia menjabat sebagai kepala daerah kota Dumai, dan saat ini masyarakat ingin menagih janji-janjinya dan jangan lari dari apa yang sudah ia ucapkan pada masa kampanye dahulu saat turun mencari suara di tengah-tengah masyarakat.












Komentar