PEKANBARU (DNN) — Ancaman terhadap persatuan bangsa Indonesia kini tidak lagi selalu datang dalam bentuk agresi militer atau konflik bersenjata. Di era digital, perang dapat berlangsung secara senyap melalui media sosial dan algoritma yang membentuk opini, emosi, serta pola pikir publik tanpa disadari.
Pemerhati isu kebangsaan Andi Irwandi mengingatkan bahwa karakter perang modern telah mengalami pergeseran signifikan. Media sosial, menurutnya, telah menjadi ruang strategis dalam perang informasi dan perang hibrida yang menargetkan stabilitas sosial suatu negara.
“Perang hari ini tidak selalu menggunakan senjata. Ia bisa berlangsung melalui layar ponsel dan media sosial, di mana algoritma bekerja membentuk emosi dan persepsi masyarakat,” kata Andi.
Ia menilai maraknya konten provokatif, narasi kebencian, serta polarisasi opini publik bukanlah dinamika yang tumbuh secara alami. Fenomena tersebut didorong oleh mekanisme algoritma yang cenderung memperbesar konten bermuatan emosi tinggi demi keterlibatan pengguna.
Menurut Andi, algoritma tidak bekerja berdasarkan nilai kebenaran, melainkan pada tingkat interaksi. Akibatnya, konten yang memancing kemarahan, kecurigaan, dan konflik justru lebih mudah menyebar luas dan berulang.
“Ketika kemarahan dan kebencian terus diproduksi dan diperbesar, nalar publik melemah dan masyarakat menjadi mudah terpolarisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa isu-isu sensitif seperti politik, agama, dan identitas kerap dijadikan instrumen utama dalam perang informasi. Narasi tersebut disusun dengan framing tertentu untuk membangun konflik emosional yang berkepanjangan di tengah masyarakat.
“Perang ini tidak membutuhkan tank atau senjata api. Cukup dengan narasi yang diulang secara masif, sebuah bangsa bisa dibuat saling curiga dan terpecah,” tegasnya.
Andi menilai Indonesia, dengan keragaman suku, agama, dan budaya, memiliki potensi besar menjadi sasaran perang hibrida apabila kesadaran kebangsaan melemah. Padahal, keragaman tersebut merupakan fondasi utama persatuan nasional.
“Perbedaan seharusnya menjadi kekuatan. Namun jika masyarakat lengah, perbedaan itu dapat dimanfaatkan sebagai alat adu domba,” katanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital sebagai bagian dari ketahanan nasional. Masyarakat diminta lebih kritis dalam menyerap informasi serta mampu mengendalikan emosi sebelum bereaksi atau menyebarkan konten di media sosial.
“Tidak semua informasi yang viral itu benar, dan tidak semua yang memancing emosi pantas dibagikan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Andi Irwandi mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital.
“Persatuan Indonesia adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Jangan biarkan algoritma, propaganda, dan kepentingan tersembunyi merusak kebhinekaan yang menjadi dasar berdirinya bangsa ini,” pungkasnya. (***)














Komentar