DUMAI (DNN) – Pelaksanaan debat publik pasangan calon (paslon) kepala daerah di Kota Dumai (Riau) sudah digelar. Empat Paslon Walikota dan Wakil Walikota Dumai masing-masing telah beradu gagasan.
Selanjutnya, paslon-paslon dari daerah penyelenggara pilkada lainnya akan menyusul sampai masuk masa tenang. Sesuai jadwal yang ditentukan, para paslon akan bertarung gagasan demi bisa menarik perhatian para calon pemilih. Hanya saja, debat publik semacam ini dinilai kurang efektif.
Pengamat Politik dan juga sebagai Praktisi Hukum, Eko Saputra yang selalu kritis dengan postingan-postingan di media sosial mengakui debat paslon yang belakangan digelar, sebenarnya belumlah ideal. Menurutnya, konsep ideal dari sebuah debat paslon adalah sebagai ruang bagi paslon untuk lebih menunjukkan visi misinya secara konkret.
Jika dalam tahapan kampanye paslon hanya menyampaikan soal janji-janjinya, maka dalam tahapan debat paslon sebenarnya diminta untuk menunjukkan hal-hal yang lebih konkret mewujudkan janji-janji itu dan langkah apa yang akan diperbuat secara rasional yang bisa dikonsumsi publik.
“Jadi kadang-kadang malah diharapkan sudah ada gambaran kira-kira kebijakan secara teknis nanti seperti apa. Misalnya ‘saya akan menyejahterakan dari segi pendidikan’. Nah, kebijakannya seperti apa yang akan diambil dan seterusnya,” jelas Eko Saputra saat dihubungi Dumainews.net via telepon, Sabtu (05/12/2020).
1. Paslon harus menjual sesuatu yang berbeda.
Bung Eko, menuturkan para paslon harus saling menjual sesuatu yang bisa membedakan mereka. Karena sebenarnya dalam konteks visi misi, setiap paslon kurang lebih sama, hanya cara membahasakannya yang berbeda dan yang lebih aneh lagi saat saya lihat debat pertama waktu itu, lebih tepat bukan debat melainkan diskusi publik.
Sebagai contoh, kata Eko, semua paslon akan mengupayakan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan, memperbaiki pelayanan publik, kesehatan, melakukan reformasi birokrasi dan seterusnya, serta sampai menjemput APBN.
“Hal-hal itu kan sama oleh para kandidat lainnya, hanya bahasanya berbeda-beda. Dalam konteks begini kan nantinya para kandidat itu menunjukkan ‘saya ingin melakukan peningkatan kesejahteraan dengan cara seperti ini’. Nanti kandidat yang lain juga menunjukkan caranya yang lain,” kata Eko.
Di sinilah nantinya para calon pemilih melihat siapa di antara para paslon ini yang kebijakannya lebih realistis dilaksanakan meskipun sama-sama menjanjikan kesejahteraan dan paling tidak muluk-mulus yang tidak masuk dalam pemikiran rasional.
“Debat kandidat mestinya adalah ruang seperti itu sehingga kemudian mereka yang saat ini mungkin belum mempunyai pilihan atau swing voters (Golput) bisa segera menentukan ternyata ini yang lebih tepat dan seterusnya,” kata Pengacara Muda ini lagi.
2. Debat paslon tak seharusnya jadi ajang adu gagasan normatif.
Bung Eko juga, menyebut debat paslon sebenarnya tidak hanya sekadar unjuk diri dengan karakter diri yang dibuat-buat. Misalnya tampil atau bertanya lebih sopan, lebih baik, terlihat cerdas dan seolah mengerti secara teoritis nya saja,ini bukan masalah teori tapi gagasan yang akan mereka lakukan, karena kita tahu bahwa terkadang teori dan prakteknya selalu bertolak belakang dan seterusnya, meskipun hal itu memang adalah salah satu hal yang dituju oleh para masing-masing paslon.
Namun sebenarnya bagi para pemilih dan penyelenggara, kata Eko, ruang debat ini sebaiknya memang adalah pertarungan atau gagasan untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan di antara paslon pada konteks kebijakan-kebijakan lebih teknis.
“Karena kalau hanya jargon saja ya apa bedanya debat kandidat dengan kampanye biasa saya menjumpai para pemilih disetiap kecamatan dan kelurahan,” kata Eko.
3. Debat seharusnya bisa mengeksplorasi visi misi paslon
Sementara itu, Pengacara Muda ini juga, mengatakan bahwa fungsi debat sebenarnya berupaya mengeksplorasi visi kepemimpinan paslon.
“Paling tidak bisa mengkoneksikan visi kepemimpinan kandidat dengan arahan perencanaan makro daerah dalam jangka panjang, selama nantinya ia terpilih dengan masa jabatan yang telah di tentukan, lalu di setiap tahun target apa yang akan ia tuju yang sifatnya benar urgensi yaitu dalam bidang ekonomi misalnya, katanya lagi.
Menurut Eko, jika merujuk pada debat-debat paslon sebelumnya dan saat ini, sepertinya debat paslon lebih surplus di selebrasi tapi defisit di gagasan pokok visi misinya.
“Banyak problem teknis yang membuat debat kandidat tidak cukup efektif mengeksplorasi gagasan kandidat, terutama di soal teknis durasi waktu atau emang kurang fokus apa yang ditanyakan lain yang dituturkan,” kata Eko.
4. Debat seharusnya bisa meyakinkan pemilih
Eko juga menyebut debat paslon biasanya lebih banyak diisi gimmick dan entertaint dari para paslon itu sendiri. Sementara eksplorasi gagasan, paslon tidak sampai pada hal-hal yang bersifat strategis yang dapat mendongkrak suaranya.
Untuk segmen pemilih kota yang rasional, lanjutnya, fungsi debat menjadi penting untuk lebih meyakinkan pemilih. Pada kategori undicided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan sampai hari pemilihan), konten debat akan mempengaruhi preferensi memilih mereka.
“Apalagi di berbagai lembaga survey yang pernah saya lihat dari tahun sebelumnya, persentasi pemilih untuk kategori undecided voters dan swing voters, masih sangat besar dan berpotensi menentukan hasil akhir pemilihan, Nah itu yang harus dikejar untuk diyakinkan,”tutupnya.
#Iskandar SBR













Komentar